Pengertian Zakat | Hukum & Jenis – Jenis Zakat

Selamat Siang guyss.. Kembali lagi ama gw Mister X, kali ini gw mau kasih tau Tentang Zakat, yuk disimak aja apasih isinya..

Pengertian Zakat – Manusia adalah mahluk sosial sehingga tidak bisa hidup tanpa mahluk lain. Kecenderungan ini membuat individu manusia meyisihkan sebagian hartanya untuk orang lain yang dianggap berhak menerimanya.

Kegiatan menyisihkan harta untuk diserahkan kepada orang yang tidak cukup mampu adalah pengertian zakat secara singkat.

Zakat adalah kewajiban bagi umat agama Islam, karena zakat termasuk rukun Islam yang keempat. Orang atau golongan yang berhak menerima zakat ditetapkan berdasarkan prinsip syariah.

Pengertian Zakat Secara Rinci

Pengertian-zakat

Pengertian zakat secara harfiah dipungut dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi daring.

Disebutkan bahwa zakat ialah sejumlah harta yang mesti dikeluarkan oleh orang beragama Islam dan diserahkan kepada kelompok yang berhak menerima (fakir kurang mampu dan sebagainya) cocok dengan syariah Islam.

Dari segi bahasa, kata zakat diserap dari kata berbahasa Arab ‘zaka’. Secara literal, ‘zaka’ berarti bersih, suci, subur, berkat dan berkembang.

Secara makna, ‘zaka’ merujuk untuk sebutan dari sesuatu hak Allah Ta’ala yang dikeluarkan untuk fakir miskin. Makna berikut yang melandasi definisi zakat di Indonesia.

Zakat ialah bentuk ibadah, tak berbeda dengan mengerjakan sholat, puasa, dan lain-lain. Kegiatan zakat ditata menurut Al-Quran dan sunnah.


Dalam Al-Quran dilafalkan Allah berfirman, “Padahal mereka tidak disuruh, kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan agar mereka menegakkan shalat dan membayar zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus” (QS. al-Bayyinah[98]: 5).

Di samping itu, dalam Al-Quran juga dilafalkan bahwa “Allah membumihanguskan riba dan menyuburkan sedekah” (QS. al-Baqarah[2]: 276). Tambahan lain, “Ambillah zakat dari beberapa harta mereka, dengan zakat tersebut kamu mencuci dan menyucikan mereka” (QS. at-Taubah[9]: 103).

Dalam Al-Quran dilafalkan bahwa zakat diwajibkan untuk seluruh umat Islam yang telah mengisi syarat tertentu.

Empat kriteria yang mesti diisi untuk dapat mengerjakan zakat merupakan:

  • Beragama Islam
  • Berakal
  • Baligh
  • Nisab


Jenis-Jenis zakat


Berdasarkan keterangan dari hukum Islam, ada dua jenis zakat yang dapat dilakukan oleh umatnya. Kedua macam zakat tersebut ialah zakat fitrah dan zakat maal.

Zakat Fitrah

Zakat fitrah ialah zakat yang wajib dilaksanakan umat beragama Islam menjelang hari raya Idul Fitri atau di bulan Ramadhan. Pengertian zakat fitrah pun ada dalam KBBI, yakni zakat yang diserahkan umat Islam satu tahun sekali (pada Idul Fitrri) berupa makanan pokok keseharian (beras, jagung, dan lain-lain).

Cara mengerjakan zakat fitrah yaitu dibayarkan setara 3,5 liter atau 2,5 kilogram makanan pokok di setiap daerah.

Sebagian besar wilayah di Indonesia mempunyai makanan pokok beras yang dimasak menjadi nasi. Oleh sebab itu, beras sejumlah 2,5 kilogram bisa dijadikan perangkat pembayaran zakat fitrah.

Zakat Maal

Pengertian-zakat mal

Jenis zakat yang kedua ialah zakat maal atau zakat harta. KBBI versi daring mendefinisikan zakat maal sebagai zakat yang wajib diserahkan karena menyimpan atau mempunyai harta yang lumayan syarat-syaratnya. Jenis harta yang dimaksud berupa uang, emas, maupun barang berharga lainnya.

Sederhananya, zakat maal adalah zakat pendapatan seperti hasil pertanian, peternakan perikanan, pertambangan, perniagaan, hasil temuan, serta barang berharga laksana emas dan perak.
Masing-masing jenis pendapatan memliki perhitungan tersendiri.

Pada dasarnya, zakat maal dilaksanakan dengan menyisihkan beberapa dari harta yang dipunyai oleh pribadi beragama Islam atau badan yang dipunyai umat Islam sesuai peraturan agama. Harta yang disisihkan ini nantinya diserahkan kepada kaum yang berhak menerimanya.

Perlu diketahui bahwa negara Indonesia mempunyai badan yang bertugas mengelola zakat dalam skala nasional. Badan pengelola zakat di Indonesia disebut Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).

Lembaga BAZNAS tergolong lembaga pemerintah non-struktural yang mempunyai sifat mandiri. BAZNAS bertanggung jawab untuk Presiden RI melewati Menteri Agama. Kedudukan BAZNAS sedang di Ibukota Negara Indonesia, yakni Jakarta.

Karena ada badan nasional guna zakat, pengelolaannya pun ditata dalam undang-undang. Dasar hukum pengelolaan zakat di Indonesia ialah UU NO. 38 Tahun 1999 mengenai Pengelolaan Zakat dan UU No. 17 Tahun 2000 mengenai Perubahan Ketiga UU No. 7 Tahun 1983 mengenai Pajak Penghasilan.

Dasar hukum pengelolaan zakat pun diperkuat melewati Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 581 tahun 1999. Peraturan lainnya yakni Keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat dan Urusan Haji Nomor D tahun 2000 mengenai Pedoman Teknis Pengelolaan zakat.

Adanya dasar hukum pengelolaan zakat menciptakan BAZNAS bisa mengatur pekerjaan amil zakat mulai dari mengumpulkan, mengelola, sampai menyalurkannya. Penyalurkan zakat dilaksanakan menurut pedoman penerima hak zakat.


Hukum Memberi Zakat

Hukum memberi Zakat


Seperti yang sudah dilafalkan pada ulasan di atas, zakat adalah salah satu rukun islam dan pun adalah salah satu unsur sangat utama dalam bersirinya syariat Islam.

Oleh karenanya zakat dihukumi mesti tanpa terdapat pengecualian untuk muslim yang mampu.

Dikutip dari sekian banyak sumber yang menyatakan hal tersebut, dilafalkan bahwa zakat merupakan kewajiban setiap pribadi (fardu ‘ain) yang dikeluarkan oleh seluruh muslm yang mampu.

Zakat itu akan dihimpun oleh badan amil zakat tertentu kemudian di berikan kepada kelompok yang berhak. Seperti yang telah dilafalkan dalam ayat inilah :

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS At Taubah : 103).

Distribusi Hak Zakat


Zakat adalah amal sosial kemasyarakatan untuk destinasi kemanusiaan, di samping sebagai sebuah kewajiban. Pengelolaan zakat bisa didistribusikan untuk pihak-pihak yang tidak cukup beruntung dan berhak menerima guna zakat.

Dalam Surat at-Taubah ayat 60 dirinci pihak-pihak yang berhak menerima guna zakat. Terdapat delapan kelompok yang dikategorikan berhak guna menerima zakat. Kedelapan kelompok tersebut ialah sebagai berikut.

  1. Fakir. Mereka dalam golongan yang hampir tidak memiliki apapun, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Kata fakir sendiri bermakna ‘membungkuk tulang punggung’, ditujukan untuk orang yang telah bungkuk karena beratnya memikul beban kehidupan.
  2. Miskin. Mereka dalam golongan yang memiliki sedikit harta namun tidak mampu mencukupi kebutuhan dasar dalam hidupnya. Kata miskin berasal dari kata ‘sukun’ yang berarti tidak ada perubahan dalam hidup, tetap menahan penderitaan dan beban hidup.
  3. Amil. Orang-orang yang termasuk mengumpulkan dan membagikan zakat. Proses pengumpulan zakat dapat dilakukan oleh satu atau beberapa petugas. Orang yang bertugas dalam amil zakat dapat menerima zakat dalam jumlah tertentu sesuai aturan.
  4. Mu’allaf. Orang-orang yang baru memeluk agama Islam, yang oleh karenannya membutuhkan bantuan dalam rangka menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru.
  5. Hamba sahaya. Mereka dalam golongan budak yang ingin memerdekakan dirinya.
  6. Gharimin. Orang-orang yang berhutang untuk pemenuhan kebutuhan hidup halal, namun tidak sanggup membayar kewajiban tersebut.
  7. Fisabilillah. Mereka dalam golongan yang berjuang di jalan Allah, misalnya melalui kegiatan dakwah.
  8. Ibnus Sabil. Orang-orang yang kehabisan uang di dalam perjalanannya.

Golongan yang Tidak Menerima Zakat

Berkebalikan dengan penerima zakat, ada pula kelompok yang seharusnya tidak menerima zakat. Empat kelompok yang haram menerima zakat merupakan:

  1. Orang-orang yang kaya dan masih memiliki tenaga
  2. Hamba sahaya yang masih menerima nafkah atau mendapat tanggungan dari orang tuanya
  3. Keturunan Nabi Muhammad (ahlul bait)
  4. Orang dalam tanggungan umat Islam yang berzakat, contohnya anak dan istri

Kegiatan zakat memberikan tidak sedikit manfaat kemanusiaan yang dapat dirasakan oleh penerima guna zakat.

Keberadaan zakat menolong fakir miskin, memperluas peredaran harta dan uang, memacu perkembangan ekonomi, sampai mengurangi keirihatian sosial.

Dari sisi pemberi zakat, pekerjaan ini bisa memberikan sejumlah manfaat secara langsung dan tidak langsung. Berzakat ialah cara menjalankan rukun Islam, sarana mendekatkan diri pada Allah, serta jalan untuk meningkatkan pahala.