Pengertian Tauhid & Pembagiannya Secara Rinci

Pengertian Tauhid

Selamat Siang Guyss.. Kembali lagi ama gw Mister X, kali ini gw mau kasih info Tentang Tauhid, yuk kita simak aja apasih isinya..

Pengertian Tauhid: Tauhid adalah salah satu konsep aqidah yang dilaksanakan oleh umat Islam, cocok dengan ikrar saat menyampaikan kalimat syahadat.

Kata tauhid dimuat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dalam KBBI versi daring, definisi tauhid diperlihatkan sebagai kata benda yang berarti keesaan Allah. Disebutkan pun kata tauhid dalam ekspresi ‘kuat tauhidnya’ merujuk untuk kuatnya keyakinan bahwa Allah melulu satu.

Artikel ini membicarakan mengenai definisi tauhid dan pembagian tauhid dalam buku suci Al-Quran.

 

Pengertian Tauhid

Kata tauhid dimuat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dalam KBBI versi daring, definisi tauhid diperlihatkan sebagai kata benda yang berarti keesaan Allah. Disebutkan pun kata tauhid dalam ekspresi ‘kuat tauhidnya’ merujuk untuk kuatnya keyakinan bahwa Allah melulu satu.

Istilah tauhid berasal dari bahasa Arab ‘tawhid’, lantas diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi tauhid. Tauhid ialah bentuk masdar dari fiil ‘wahhada-yuwahhidu’, dengan makna menjadikan satu saja.

Umat beragama Islam mempercayai bahwa tauhid adalahdasar Islam yang agung dan esensi Islam yang sangat besar. Melakukan tauhid ialah salah satu kriteria supaya amal tindakan diterima, yang tetap dibarengi dengan bimbingan Rasulullah.

Tauhid

Salah satu alasan Al-Quran mengenai tauhid terdapat dalam Surat An-Nahl 16:36 yang berbunyi, “..dan bahwasannya Kami sudah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.”

Surat At-Taubah 9:31 pun memuat dengan jelas, “Padahal mereka hanya diajak menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak terdapat Tuhan (yang berhak disembah) di samping Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”

Keutamaan dan kemuliaan tauhid pun tertuang dalam surat Az-Zumar dan Al-Bayyinah. Dalam Surat Az-Zumar 39:2-3 disebutkan, “Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, melulu kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).”

Sementara, Surat Al-Bayyinah 98:5 dengan jelas dan tegas memuat kalimat, “Padahal mereka tidak diajak kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.”

Dalam Syarh Tsalatsatil Ushul ayat 39, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata, “Makna ini tidak tepat kecuali, dibuntuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu di samping sesuatu yang anda jadikan satu saja, lantas baru menetapkannya.”

Seorang Syaikhul Islam mempunyai nama Ibnu Taimiyah Rahimahullah pun mengatakan, “Orang yang inginkan mentadabburi suasana alam bakal mendapati bahwa sumber kebajikan di muka bumi ini ialah bertauhid dan beribadah untuk Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa serta taat untuk rasulullah S.A.W.

Sebaliknya semua keburukan di muka bumi ini; fitnah, musibah, paceklik, dikuasai musuh dan lain-lain penyebabnya ialah menyelisihi rasulullah S.A.W dan berdakwah (mengajak) untuk di samping Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa.

Orang yang mentadabburi urusan ini dengan sebenar-benarnya bakal mendapati fakta seperti ini baik dalam dirinya maupun di luar dirinya.” (Majmu’ Fatawa 15/25)

 

Pembagian Tauhid dalam Al-Quran

Tauhid

Hasil pengkajian dalil-dalil tauhid oleh semua ulama memberikan benang merah bahwa ada tiga pembagian terhadap tauhid. Tiga unsur tauhid ialah: Rububiyah, Uluhiyah, serta Al Asma Was Shifat.

Tauhid Rububiyah

Tauhid Rububiyah ialah: sikap meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb. Allah ialah satu-satunya raja dan pencipta segala mahluk, serta Allah yang menata dan mengolah mereka.

Sebagai satu-satunya Rabb, Allah yang memelihara, memberi rezeki, menyerahkan manfaat, menampik mudharat, serta mengawal alam semesta. Hal ini ditegaskan dalam Surat Az-Zumar ayat 39:62 yang berbunyi, “Allah membuat segala sesuatu dan Dia merawat segala sesuatu.”

Tauhid Rububiyah berarti seseorang mentauhidkan Allah dalam sekian banyak kejadian yang hanya dapat dilakukan Allah. Meyakini Rububiyah dengan kata lain yakin terhadap dominasi Allah dalam mencipta dan menata semesta beserta segala isinya.

Keyakinan Rububiyah ditegaskan dalam Al-Quran. Surat Al-An’am:1 menyatakan, “Segala puji untuk Allah yang telah membuat langit dan bumi dan Mengadakan gelap dan terang.”

Tauhid Rububiyah dipercayai oleh seluruh orang, baik tersebut mukmin maupun kafir. Keyakinan ini bahkan ada semenjak dahulu sampai sekarang. Hal ini ada dalam Surat Az-Zukhruf:87 yang berbunyi, “Sungguh andai kamu bertanya untuk mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah membuat mereka?’, niscaya mereka akan membalas ‘Allah’.”

Satu lagi surat yang menegaskan bahwa tauhid Rububiyah dipercayai oleh seluruh orang diperlihatkan dalam Surat Al-Ankabut:61.Sungguh andai kamu bertanya untuk mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’Siapa yang telah membuat langit dan bumi serta menjalankan matahari pun bulan?’, niscaya mereka akan membalas ‘Allah’.”

Orang-orang yang mengingkari dominasi Allah sebagai satu-satunya Rabb, pada kenyataannya diperlihatkan karena keangkuhan mereka. Jauh di dalam lubuk hatinya, orang-orang laksana ini mengakui bahwa alam semesta tidak bakal terjadi bilamana tidak terdapat yang membuat dan mengatur.

Dalam Surat Ath-Thur: 35-36, dilafalkan bahwa, “Apakah mereka dibuat tanpa sesuatu juga ataukah mereka yang menciptakan? Ataukah mereka telah membuat langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak mempercayai (apa yang mereka katakan).”

Tauhid Uluhiyah

Ibadah atau tauhid Uluhiyah berarti beriman bahwa melulu Allah yang berhak disembah, tidak terdapat sekutu bagi-Nya. Dengan kata lain, Uluhiyah ialah mentauhidkan Allah dalam segala format peribadatan, baik zhahir maupun batin.

Dalil terhadap tauhid Uluhiyah tertuang dalam Surat Al-Fatihah:5 yang berbunyi, “Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan melulu kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.”

Ibadah bermakna seluruh hal yang disukai Allah baik tersebut dalam format perkataan maupun perbuatan. Segala urusan yang disukai Allah mencakup semua yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, serta pekerjaan yang dijanjikan balasan kebaikan bilamana dilakukan.

Kegiatan laksana shalat, puasa, serta sedekah adalah sebagian kecil ibadah yang dapat dilakukan umat Islam. Berdoa, tawakal dan istighotsah pun termasuk tindakan ibadah yang dijanjikan balasan kebajikan terhadapnya.

Seseorang yang melaksanakan tauhid Uluhiyah melulu menyerahkan seluruh ibadahnya melulu kepada Allah. Tidak terdapat lagi penyerahan untuk yang lain, melulu satu yakni Allah.

Tauhid Al Asma Wa Sifat

Tauhid Al Asma Wa Sifat berarti beriman bahwa Allah mempunyai nama dan sifat baik (asma’ul husna) cocok keagungan-Nya. Terdapat 99 asma’ul husna yang dikenal oleh umat Islam sebagai nama sekaligus sifat Allah.

Menerapkan tauhid Al Asma Wa Sifat yaitu memutuskan nama dan sifat cocok kehendak yang diputuskan Allah untuk dirinya. Nama dan sifat Allah dinafikan tanpa tharif, ta’thil maupun takyif. Allah berfirman, “Hanya kepunyaan Allah nama-nama yang husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyinggung nama-nama-Nya.” (QS. Al A’raf:180)

Larangan tharif ialah bentuk memalingkan arti ayat atau hadist mengenai nama atau sifat Allah, dari arti zhahir menjadi arti batil. Terdapat pengubahan makna suatu kata dengan teknik mengaburkan bahkan menghilangkan arti awal.

Ta’thil adalah mengingkari dan menolak sebagian sifat Allah. Ada beberapa orang yang menolak bahwa Allah sedang di atas langit. Beberapa orang menuliskan bahwa Allah terdapat dimana-mana.

Takyif ialah bentuk perbuatan mencerminkan hakikat wujud Allah. Hal ini tergolong larangan sebab tidak terdapat mahluk yang dapat menggambar esensi wujud Allah. Tidak terdapat mahluk yang dapat menyerupai Allah.

Dua format penyimpangan tauhid Al Asma Wa Sifat ialah tasybih dan tafwidh. Tasybih berarti menyerupakan sifat Allah dengan sifat mahluk-Nya. Tafwidh adalah perilaku tidak menampik nama atau sifat Allah, namun tak mau menetapkan (tidak tahu) maknanya.